|
Pendidikan Kesetaraan Ajarkan Kecakapan Hidup |
Pendidikan kesetaraan untuk peserta yang terdaftar di institusi penyelenggara pendidikan ini diharapkan bukan sekedar mengejar ijazah. Dalam program pendidikan kesetaraan, pembelajaran kecakapan hidup dan kepribadian profesional justru perlu ditekankan untuk menyiapkan lulusannya siap memasuki dunia kerja. ”Pembelajaran di lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan kesetaraan seperti pondok pesantren, pusat kegiatan belajar masyarakat, atau sanggar kegiatan belajar dilakukan berdasarkan acuan kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi peserta untuk bisa siap bekerja dan berwirausaha. Bahan ajar yang diberikan ke peserta juga sesuai dengan kondisi kehidupan sehingga mereka memiliki kecakapan untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan,” kata Ella Yilaelawati, Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas di Jakarta, Selasa (8/7).
|
|
|
Indonesia Dapat Pujian Soal Sistem Pendidikan |
|
Antropolog dari Universitas George Washington AS, Joel C Kuipers, memuji sistem pendidikan nasional yang diterapkan di Indonesia, sebab di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun tidak memiliki sistem terpadu yang mengakomodasikan pendidikan formal dan non formal sekaligus. "Di dunia ini banyak negara, tetapi negara dengan masyarakat heterogen tidak banyak, antara lain Amerika Serikat, India dan Indonesia. Karena itu, saya tertarik dan mengadakan penelitian tentang bahasa dan perubahannya dengan responden pelajar di Pulau Sumba," katanya kepada pers di Jakarta, Jumat (9/5). Ia mengatakan, hasil penelitian tersebut salah satunya menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia memainkan peranan penting dalam membawa perubahan pemakaian bahasa pada peserta didik.
|
|
|
Meningkatkan minat baca bagi tutor dan warga belajar |
|
Usaha menumbuhkan dan meningkatkan minat baca bagi Tutor, dan terutama warga belajar sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk memutus belenggu kebodohan dan keterbelakangan, pemerintah telah menetapkan adanya Bulan Buku Nasional (BBN) setiap bulan Mei, Akan tetapi, keberadaan bulan penuh makna itu masih belum tersosialisasikan dengan baik, tidak menutup kemungkinan banyak para pekerja pendidikan nonformal (pamong belajar, tutor, penilik, TLD, FDI) tidak mengetahui adanya BBN, sehingga bulan yang dicanangkan untuk mengembangkan wawasan melalui kebiasaan membaca belum dikomunikasikan dengan baik oleh para penggerak pendidikan nonformal kepada masyarakat sebagai sasaran program.
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
| Results 1 - 6 of 26 |